//
← Kembali ke News
Artikel 27 Sep 2026

Bukan Cucu Krakatau, Ini Fakta di Balik Munculnya Dua Daratan Baru di Selat Sunda

M Muhammad Dzaky Surya Raihan
Bukan Cucu Krakatau, Ini Fakta di Balik Munculnya Dua Daratan Baru di Selat Sunda
Berita CNN mengenai kemunculan daratan baru pasac erupsi anak Krakatau pada 4-6 September 2026
SELAT SUNDA – Sisa-sisa letusan panjang awal September lalu ternyata meninggalkan jejak mengejutkan di perairan Selat Sunda. Dua daratan baru tiba-tiba menyembul di sekitar Gunung Anak Krakatau, memicu rasa penasaran publik. Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini pertanda lahirnya "Cucu Krakatau"?
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membenarkan fenomena alam ini. Eksistensi dua pulau baru tersebut telah dikonfirmasi melalui laporan para pelaut, relawan, hingga analisis citra Satelit Sentinel pada 23 September 2026.

Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa daratan baru ini letaknya seolah mengapit sang gunung berapi. "Pulau baru terdeteksi di sektor barat laut sejauh 760 meter dari pesisir Anak Krakatau dan di sektor tenggara sejauh 495 meter dari pesisir," ungkap Lana.
Lahir dari Muntahan Erupsi Maraton
Namun, masyarakat tak perlu buru-buru panik. Edukator mitigasi bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menepis anggapan bahwa daratan tersebut adalah gunung api baru atau 'Cucu Krakatau'.

Daryono memaparkan, daratan ini murni merupakan tumpukan endapan material vulkanik. Asal-muasalnya berkaitan erat dengan erupsi maraton Anak Krakatau yang berlangsung selama 25 jam pada 4-6 September 2026 lalu.
Kala itu, gunung api ini memuntahkan aliran lava deras, abu, dan batuan yang memperluas tubuhnya hingga 32,8 hektare. Lantaran dasar laut di area kaldera sisa letusan Krakatau 1883 tergolong dangkal, material tersebut dengan cepat menumpuk di dasar laut. Dibantu oleh dinamika arus Selat Sunda yang mengumpulkan material ringan di titik perairan yang tenang, gundukan vulkanik itu akhirnya menembus permukaan laut dan membentuk daratan.
Bisa Lenyap, Bisa Semakin Raksasa
Menariknya, nasib dua pulau baru ini masih menjadi misteri alam karena sifatnya yang belum tentu permanen. Daratan ini bisa saja terkikis erosi ombak laut dan kembali lenyap. Namun di sisi lain, ia juga bisa semakin meluas dan kokoh jika Anak Krakatau terus memuntahkan lava cair yang kemudian membeku menjadi batuan keras pelindung pulau.

Saat ini, Badan Geologi masih terus melakukan kajian mendalam untuk memastikan apakah gundukan ini murni akumulasi sekunder, atau justru titik pusat erupsi yang baru.
Zona Bahaya Baru Ditetapkan
Merespons dinamika alam ini, status Gunung Anak Krakatau memang telah diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak 21 September 2026. Meski begitu, Badan Geologi menetapkan zona bahaya yang baru.

Siapapun, baik nelayan maupun wisatawan, dilarang keras beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah utama, serta dilarang mendekat dalam radius 1 kilometer dari kedua daratan baru tersebut."Warga di sepanjang pesisir Pantai Banten dan Lampung diimbau untuk tetap tenang, tidak memercayai isu hoaks terkait tsunami, serta mematuhi arahan keselamatan dari BPBD setempat," tegas Lana mengakhiri.

Source:CNN Indonesia