←
Kembali ke News
Budaya literasi terbukti berpengaruh langsung terhadap kemampuan kognitif seseorang, terutama saat berdiskusi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seseorang dengan tingkat literasi yang tinggi cenderung lebih kritis, sistematis, dan logis dalam menyampaikan maupun menanggapi suatu argumen.
Penelitian yang dilakukan oleh A. Rohman dalam jurnal EUNOIA (2022) menemukan bahwa budaya literasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dalam jurnalnya, peserta didik yang terbiasa membaca dan mengakses informasi menunjukkan kemampuan analisis yang lebih tajam. Mereka mampu memahami isu secara mendalam dan tidak mudah menerima informasi tanpa evaluasi.
Temuan ini terlihat dalam praktik diskusi. Seseorang dengan literasi baik mampu mengidentifikasi inti masalah dengan cepat, menyusun argumen berbasis data, menanggapi pendapat dengan alasan logis, dan menghindari kesalahan berpikir seperti asumsi tanpa dasar
Penelitian lain oleh B. Mustika (2021) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memperkuat hasil tersebut. Penemuan ini menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan antara budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis dengan koefisien jalur sebesar 0,421 dan nilai signifikansi p < 0,05. Angka ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi akan diikuti peningkatan kemampuan kognitif dalam mengolah informasi.
Dalam konteks diskusi, kemampuan ini sangat penting. Diskusi bukan hanya soal berbicara, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolahnya, dan kemudian menyampaikan kembali dalam bentuk argumen yang jelas. Literasi menjadi fondasi utama dalam proses ini.
Contoh nyata terlihat di lingkungan akademik. Mahasiswa yang aktif membaca jurnal atau buku ilmiah cenderung lebih percaya diri saat diskusi kelas, mampu mengaitkan teori dengan kasus nyata, tidak mudah terpengaruh opini tanpa data.
Sebaliknya, rendahnya literasi sering membuat diskusi berjalan singkat dan dangkal. Argumen yang muncul cenderung lemah, repetitif, dan tidak berbasis informasi yang valid.
Data ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi tidak bisa diabaikan, beberapa upaya sederhana yang bisa dilakukan yaitu dengan membaca minimal 15–30 menit per hari, mengakses sumber kredibel seperti jurnal atau buku, melatih menulis ringkasan dari bacaan, dan membiasakan diri berdiskusi dengan referensi.
Budaya literasi bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir. Dalam jangka panjang, hal ini akan menentukan kualitas diskusi, baik di lingkungan pendidikan maupun di masyarakat luas.
Literasi Tingkatkan Kemampuan Kognitif dalam Diskusi
Penelitian yang dilakukan oleh A. Rohman dalam jurnal EUNOIA (2022) menemukan bahwa budaya literasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dalam jurnalnya, peserta didik yang terbiasa membaca dan mengakses informasi menunjukkan kemampuan analisis yang lebih tajam. Mereka mampu memahami isu secara mendalam dan tidak mudah menerima informasi tanpa evaluasi.
Temuan ini terlihat dalam praktik diskusi. Seseorang dengan literasi baik mampu mengidentifikasi inti masalah dengan cepat, menyusun argumen berbasis data, menanggapi pendapat dengan alasan logis, dan menghindari kesalahan berpikir seperti asumsi tanpa dasar
Penelitian lain oleh B. Mustika (2021) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memperkuat hasil tersebut. Penemuan ini menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan antara budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis dengan koefisien jalur sebesar 0,421 dan nilai signifikansi p < 0,05. Angka ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi akan diikuti peningkatan kemampuan kognitif dalam mengolah informasi.
Dalam konteks diskusi, kemampuan ini sangat penting. Diskusi bukan hanya soal berbicara, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolahnya, dan kemudian menyampaikan kembali dalam bentuk argumen yang jelas. Literasi menjadi fondasi utama dalam proses ini.
Contoh nyata terlihat di lingkungan akademik. Mahasiswa yang aktif membaca jurnal atau buku ilmiah cenderung lebih percaya diri saat diskusi kelas, mampu mengaitkan teori dengan kasus nyata, tidak mudah terpengaruh opini tanpa data.
Sebaliknya, rendahnya literasi sering membuat diskusi berjalan singkat dan dangkal. Argumen yang muncul cenderung lemah, repetitif, dan tidak berbasis informasi yang valid.
Data ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi tidak bisa diabaikan, beberapa upaya sederhana yang bisa dilakukan yaitu dengan membaca minimal 15–30 menit per hari, mengakses sumber kredibel seperti jurnal atau buku, melatih menulis ringkasan dari bacaan, dan membiasakan diri berdiskusi dengan referensi.
Budaya literasi bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir. Dalam jangka panjang, hal ini akan menentukan kualitas diskusi, baik di lingkungan pendidikan maupun di masyarakat luas.